Pendidikan

Langkah awal mengenal dan memulai perjalanan baru di Unila - DAY 1

Selama 4 hari PPKMB FEB Unila 2026, saya belajar banyak hal mulai dari pengenalan kampus, sistem akademik, pembinaan karakter, hingga kesiapan menjadi mahasiswa mandiri. Puncak materinya adalah etika akademik, anti plagiarisme, dan manajemen diri. PPKMB menutup dengan kesan mendalam tentang pentingnya integritas dan semangat belajar untuk membangun diri sebagai mahasiswa FEB.

APRISA
6 menit baca
Langkah awal mengenal dan memulai perjalanan baru di Unila - DAY 1

Selama 4 hari PPKMB FEB Unila 2026, saya belajar banyak hal mulai dari pengenalan kampus, sistem akademik, pembinaan karakter, hingga kesiapan menjadi mahasiswa mandiri. Puncak materinya adalah etika akademik, anti plagiarisme, dan manajemen diri. PPKMB menutup dengan kesan mendalam tentang pentingnya integritas dan semangat belajar untuk membangun diri sebagai mahasiswa FEB.

Salah satu materi yang ditekankan adalah pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi (PPKPT). Mahasiswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan saling menghargai.Mahasiswa juga mendapatkan edukasi mengenai Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Materi ini menjadi pengingat agar mahasiswa mampu menjaga diri dan lingkungan dari bahaya narkoba.

Kampus adalah tempat bertumbuh, bukan sekadar tempat memperoleh gelar.Mahasiswa baru Unila datang dari latar belakang yang berbeda-beda, dan universitas inilah yang menyatukan keberagaman itu dalam satu tujuan. Setiap mahasiswa punya kesempatan yang sama untuk memberi dampak — tidak ada yang datang dengan jatah lebih banyak atau lebih sedikit.Satu kalimat dari Gubernur Lampung, Ir. Rahmat Mirzani Djausal, S.T., M.M., merangkum seluruh pesan hari itu:"Kalian datang sebagai mahasiswa baru. Kelak, kalian harus pulang ke masyarakat sebagai pembawa solusi."Itulah bingkai yang dipakai sepanjang Hari I: kuliah bukan tujuan akhir, melainkan bekal untuk kembali.

Gubernur menyebut tiga peran mahasiswa sebagai subjek — bukan objek — pembangunan.

1.AGEN PERUBAHAN (Agent of Change) Menyalurkan pemikiran dan ide baru yang kreatif, mengasah soft-skill lewat organisasi, serta beradaptasi terhadap teknologi modern dan AI.

2.KONTROL SOSIAL (Social Control) Berani, kritis, bertanggung jawab, dan peka terhadap perwujudan keadilan sosial di masyarakat.

3.GENERASI PENERUS BANGSA (Iron Stock) Menyiapkan kualitas diri yang berilmu dan berakhlak untuk menjadi Generasi Emas Indonesia.

Arahnya jelas — Indonesia Emas 2045, dengan Fase 1 (2025–2029) berfokus pada penuntasan pelayanan dasar kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial."Pemerintah daerah memegang kemudi kebijakan, sementara perguruan tinggi menyalakan mesin inovasi melalui pengabdian."

Globalisasi mengubah arti "ancaman" bagi sebuah bangsa. Batas fisik bukan lagi satu-satunya garis depan; perang informasi kini ada di genggaman tangan.Dasar hukumnya tidak berubah. UUD 1945 Pasal 27 ayat (3) menyatakan bela negara adalah hak SEKALIGUS kewajiban setiap warga negara, dan UU No. 3 Tahun 2002 menegaskannya lewat Sistem Pertahanan Semesta — melibatkan seluruh bangsa, bukan hanya militer.Yang berubah adalah bentuknya. Peta ancaman hari ini bernama hoaks, serangan siber, dan radikalisasi daring."Musuh terbesar bangsa hari ini bukan kapal perang asing — tapi hoaks yang dibagikan setiap detik."

Generasi Z — lahir 1997–2012 — adalah digital natives: tumbuh bersama teknologi, bukan menyesuaikan diri dengannya.

KEKUATAN: adaptif dan inovatif, fasih teknologi, kreatif dan kolaboratif, menjunjung keaslian.

KERENTANAN: rentan hoaks, distraksi digital, terpapar radikalisasi daring, skeptis terhadap institusi.

Gen Z adalah 27% populasi Indonesia — bisa menjadi kekuatan bangsa atau kelemahannya, tergantung pilihan mereka sendiri.

ENAM ANCAMAN NYATA HARI INI

1.Disinformasi dan hoaks — menyebar enam kali lebih cepat daripada fakta (riset MIT)

2.Cyber warfare terhadap infrastruktur kritis

3.Proxy war ideologi lewat media sosial

4.Manipulasi opini publik oleh algoritma

5.Pencurian data nasional

6.Ketergantungan teknologi asing

Kamu yang membagikan hoaks adalah kamu yang melukai pertahanan bangsa.

Kementerian Pertahanan RI merumuskan lima komponen bela negara. Kelimanya tidak berubah — yang berubah bentuk pengamalannya.

1.CINTA TANAH AIR → bangga produk lokal, mempromosikan wisata Lampung

2.SADAR BERBANGSA → berpartisipasi dalam demokrasi digital

3.SETIA PADA PANCASILA → melawan narasi anti-Pancasila dengan argumen, bukan amarah

4.RELA BERKORBAN → voluntarisme, relawan literasi digital

5.KEMAMPUAN AWAL → literasi digital dan keamanan siber

DULU → SEKARANG

Senjata api → keyboard dan kode

Perbatasan fisik → keamanan siber

Propaganda cetak → counter-narrative digital

Latihan fisik → literasi digital dan data

Militer semata → seluruh warga negara

Mahasiswa yang mengklarifikasi hoaks, membangun narasi positif tentang bangsanya, dan melindungi data pribadinya adalah pejuang bela negara abad ke-21.

Tiga kata yang menjadi pegangan, disampaikan Ditbinmas Polda Lampung.

CERDAS — menggunakan teknologi dan media sosial untuk kepentingan positif dan produktif.

AMAN — terlindung dari ancaman digital, kejahatan siber, dan bahaya lingkungan.

BERTANGGUNG JAWAB — sadar bahwa setiap tindakan digital punya konsekuensi nyata di balik layar.

PINTAR BERMEDIA SOSIAL

· Saring sebelum sharing — verifikasi sebelum membagikan

· Literasi digital — pahami cara kerja algoritma, kenali konten menyesatkan

· Hindari hoaks — cek sumber dari media terpercaya

· Bangun opini positif — berkontribusi memperkuat, bukan memecah belah

HARI KEDUA PKKMB UNILA TAHUN 2026

Hari I memperkenalkan kampus dan bangsa. Hari II memperkenalkan sesuatu yang lebih dekat: dirimu sendiri selama empat tahun ke depan. Materinya tidak membicarakan mata kuliah, melainkan hal-hal yang menentukan apakah kamu sanggup menjalaninya sampai selesai — cara menyeimbangkan akademik dengan kegiatan, ke mana meminta bantuan saat tertekan, bagaimana membiayai kuliah bila keadaan ekonomi menyulitkan, dan apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kekerasan atau narkoba di lingkungan kampus.

Perubahan yang paling menentukan pada tahun pertama bukan materi kuliahnya, melainkan peranmu. Di sekolah, jadwal disusunkan, tugas diingatkan, dan kehadiranmu diawasi. Di kampus, ketiganya menjadi tanggung jawabmu sendiri. Tak seorang pun akan menegur bila kamu tidak masuk, dan tak seorang pun akan mengingatkan tenggat selain dirimu.\n\nKampus juga ruang eksplorasi tanpa batas. Fasilitas, komunitas, laboratorium, perpustakaan, organisasi, dan kesempatan lomba tersedia bagi siapa pun yang mencarinya — dan hanya bagi yang mencarinya. Perbedaan antara mahasiswa yang lulus dengan pengalaman berlimpah dan yang lulus dengan ijazah saja hampir selalu terletak di sini, bukan pada kecerdasannya.

Unila menyediakan tiga lapis dukungan, dan ketiganya sering baru diingat setelah terlambat.\n\nPUSAT KONSELING UNILA — layanan profesional untuk dukungan kesehatan mental dan kesejahteraan mahasiswa. Layanan konseling juga dapat diakses melalui UPA Bimbingan Konseling.\n\nDOSEN PEMBIMBING AKADEMIK — mitra strategis yang membimbing perjalanan akademikmu dan memberi arahan atas kendala studi. Peraturan Akademik mewajibkan pertemuan dengan PA sedikitnya tiga kali per semester; datangi sebelum ada masalah, bukan sesudah.\n\nTEMAN SEPERJUANGAN — lingkaran pertemanan yang saling menopang, berbagi beban, dan tumbuh bersama. Yang paling sering menyelamatkan mahasiswa bukan lembaga, melainkan satu teman yang menyadari ada yang tidak beres.

Organisasi adalah wadah mengasah kemampuan yang tidak diajarkan di ruang kelas: kepemimpinan, komunikasi efektif, kerja sama, dan tanggung jawab. Di Unila tersedia beberapa jenis: BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di tingkat universitas dan fakultas, DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) untuk minat, bakat, olahraga, seni, kerohanian, dan penalaran, serta HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan).\n\nSatu nasihat yang paling sering diabaikan: pilih yang sesuai minat dan tujuanmu, bukan yang sedang ramai diikuti. Organisasi yang dimasuki karena ikut-ikutan hampir selalu ditinggalkan di tengah jalan — dan yang tersisa hanya nama di daftar pengurus, bukan kemampuan.

10

Subscribe newsletter

Dapat email setiap kali APRISA publish post baru. Tanpa spam, unsubscribe kapan saja.

Privacy: email kamu cuma dipakai untuk kirim post baru dari blog ini. Tidak di-share, tidak di-jual.

Komentar (0)

Memuat komentar…

    Tentang Penulis

    APRISA

    Lihat semua artikel →

    Artikel Terkait dari APRISA ANINDIA SARI

    Topik Serupa

    Bacaan Lain di Blog Unila

    Tulisan terkait dari penulis lain — kurasi otomatis berdasarkan kategori & tag.